0

Tangisan awan

Posted by Heru Ziswa on 8/31/2012 03:42:00 PM

Ku tatap langit biru di awal pagi yang cerah. Tanpa malu-malu matahari pun menampakkan sinarnya di balik tingginya gunung Kaba. Bersihnya langit tanpa lukisan dari awan. Tapi inilah salah satu kekuasaan-Nya. Tanpa terasa matahari pun semakin menampakkan sinarnya. Panas, itu benar. Dikirimkannya segumpal awan putih untuk mengimbanginya. Sejuk terasa diwaktu hari yang berkah ini. Tanpa sadar aku pun hanyut terlelap dibawanya. 

Tiba-tiba gemuruh langit menghampiriku dikala aku berada di bawah alam sadar. Seketika itu juga aku dibangunkannya. Gemuruh yang memcahkan gumpalan awan hitam dilangit. Tat kala awan pun takut akan hentakkannya. Tik..tik..tik..tik..tik.. dengan sekejap awan pun menangis. Menumpahkan butiran air yang membasahi tanah. 



Tanah pun berteriak dengan bangganya “terus, terus, teruslah menangis duhai langit. Inilah waktu yang aku tunggu-tunggu setelah kau tak menghampiri kami dibumi dengan tangisanmu. Haus yang kami rasakan tak sebanding dengan tahtamu yang lebih tinggi diatas sana. Terimakasih Tuhan, Engkau telah memberikan kami sebuah keberkahan di bumi ini”.

Panas, hujan & angin memberikan sebuah lukisan mati seolah hidup karena-Nya. Lukisan alam ini tiada yang mampu menadinginya. 



0

Belum berjumpa

Posted by Heru Ziswa on 8/29/2012 09:25:00 AM
Pertama kali aku mengenalmu, dalam kadaran jejaring sosial yang begitu adanya. Saling memperkenalkan diri dengan kesederhanaan dan mengetahui apa yang tak diketahui sebelumnya. Memang, kita belum pernah bertemu, tapi kapasitasku untuk dekat dengan lewat hati, adalah kesempurnaan. Sama denganmu, ketika semua baik-baik saja, kita percaya bahwa semua akan baik-baik saja. Kau tahu semua apa yang ada pada diriku, begitu juga aku. Kita sama, mempunyai hati dan selalu berusaha mempunyai hati. Terkadang, ketika aku merasa jatuh, ketika jemariku mulai mengetik pesan singkat padamu, kamu larut menjadi dewasa. Begitu juga sebaliknya. 



Dunia memang berputar secara drastis. Sedemikian rupa sehingga kita terkadang akan tenggelam di dalamnya jika kita tidak menggunakan pelampung atau setidaknya bisa berenang untuk bisa hidup. Sama, kita pun berputar sedemikian rupa, menjadi remaja yang tak kadang tak mengenal siapa diri kita. Tidak lebih dari setahun kita menjadi teman di dunia maya, tapi Tuhan tak pernah izinkan kita untuk bertemu semili meterpun. Tuhan selalu bijak, itu yang kau katakan. Dan aku percaya. Sekalipun kita tak bertemu, suatu hari, Tuhan akan temukan kita dengan cara yang lebih indah. Lebih indah dari apa yang  direncanakan sebelumnya.

”Begitu banyak kisah. Begitu banyak cerita yang tak bisa terceritakan secara melebar. Butuh tumpukkan aksara untuk menjelaskannya. Butuh lembaran kertas untuk menulis. Butuh kiloan tinta untuk mengukir. Butuh berton-ton kesabaran untuk mengatur diri. Butuh banyak hal, jika cerita kita perlu diungkap. Tapi, rasa ini, akan menjadi cerita yang aku miliki & menjadi identitasku.”




0

Entah ?

Posted by Heru Ziswa on 8/29/2012 08:11:00 AM
Aku masih duduk termenung di tepi tempat tidur sambil menyandarkan punggungku. Rasa dingin yang menyengat malam itu membuatku berpikir untuk cepat terlelap. Tapi tak bisa. Dentingan jam yang terus terdengar perlahan mulai membuyarkan konsentrasiku. Kuambil handphone dari atas meja dan mulai mengetikkan sms. Tapi, aku mengurungkan niat untuk mengirimkannya, karena aku tahu, dia di sana tidak mengharapkan sms dariku. Kututup pesan singkat yang kuketik dan beralih menuju music player di HP ku. Rossa feat Brury "Jangan ada dusta diantara kita" perlahan mengalun seiring dengan detakan jantungku. 




Udara malam yang kian dingin memaksaku untuk bersembunyi di balik selimut tebalku. Akan tetapi aku tak mau melakukannya. Badan yang capek dan pikiran yang terkuras membuatku cukup malas untuk menarik selimut di dalam lemari. Aku hanya mengancingkan jaketku dan berharap udara malam itu akan berangsur menghangat.

Suatu ketika cinta dan kesempatan datang secara bersamaan. Aku meraihnya dengan kegembiraan. Semuanya terasa begitu indah saat itu. Dan langsung berubah seratus delapanpuluh derajat ketika dia-mereka-cinta dan kesempatan, hilang secara bersamaan. 

Perlahan kuletakkan hp ku & menutup mata untuk menyambut pagi esok…



0

Rain in my room

Posted by Heru Ziswa on 8/29/2012 08:04:00 AM
Aku terbangun dengan tetesan air yang berisik membasahi atap rumahku. Ternyata sudah pagi.. Tadi malam aku tertidur, dan aku tidak melihat bulan.. Seperti ada yang kurang ketika tiba-tiba pagi datang..

Aku membuka tirai jendela kamarku. Tetesan air hujan deras mengalir dari awan di atas sana. Bau tanah menyerbak masuk ke dalam ruanganku. Sejuk dan segar.



Aku terus berjalan keluar kamar dan menatap hujan dari teras rumah. Sangat menenangkan. Mengirimkan sebuah pesan singkat untuk bulan yang tak sempat aku lihat tadi malam. Menyaksikan tetes hujan datang dan menghantam tanah.

Aku hanya berharap bulan bisa melihat hujan ini bersamaku pagi ini. Hujan yang sederhana, dan sangat indah.. Jauh lebih indah melebihi bintang-bintang yang ia takutkan..
 


Copyright © 2009 Mihrab of Ziswa All rights reserved. Theme by Laptop Geek. | Bloggerized by FalconHive.