2

Satu tema, Beda naskah

Posted by Heru Ziswa on 1/14/2013 05:36:00 AM


Hidup ini penuh dengan tanda tanya. Demikian juga halnya dengan sesuatu yang berbeda. Berbeda dari yang sebelumnya. Tapi kali ini memang sungguh berbeda. Tak patut bagiku untuk mengetahui mengapa bisa berbeda. 

Begitu banyak bintang. Seperti pertanyaan-pertanyaanku. Tentang hal yang berbeda. Tapi bagaimana jika ini benar aku suka dengan warna pelangi itu, dari kekurangan hingga kelebihan warnanya. 

Yaa aku tak bisa menebak, begitu juga membaca tentang warna pelangi. Aku hanya mempunyai warna pelangi bukan warna tentang pelangi. Bulan, apakah engakau bisa? Haruskah ku menunggu hingga engkau menjawab? Tak mengapa aku duduk beralaskan jerami-jerami lembab ini. Hingga fajar menyingsing langit biru beratapkan dengan nada-nada sunyi. 

Dalam nada-nada sunyi, telah ku kumpulkan warnaku sedemikian rupa. Dalam harap itu takkan hilang nada-nada yang sunyi, semua angan, semua warna untuk kupersembahkan.  Akankah anganku tersampaikan? Ini hanyalah lembaran semu. Semuku….. 

Memahami tak semudah dibandingkan dengan membaca. Dari sudut pandang yang berbeda, mempunyai ragam arti & makna. Merindukan setiap tetesan air dari langit. Menatap langit cerah berhiaskan bintang-bintang. Bulan tak perlu engkau menjawab, itu bukanlah aku. Mungkin ku salah jalan dalam menafsirkannya. Tak hayal jemariku menari-nari di dinding ini untuk memberikan warna yang sebenarnya. 

Inikah penafsiran yang sebenarnya? “Bermain didalam satu tema yang sama. Sedikit berbeda jalan cerita. Mempunyai perbedaan naskah. Dan kita adalah pemeran dari suatu kisah tersebut. Tidak berada didalam alur yang sama” 


Dalam sujudku, berilah aku kesabaran pada hati ini agar senantiasa bermujahadah di jalan-Mu, sekiranya Qada’ & Qadar-Mu bukanlah kemauanku….




4

Lukisan warna, dimana?

Posted by Heru Ziswa on 1/07/2013 10:26:00 AM



Masih dengan lagunya Return by Lee Seung Gi. Mengarungi waktu untuk menunggu sang pelangi tidaklah begitu melelahkan hati. Mimpi-mimpi tentang pelangi yang menghampiri terlihat seperti nyata. Nyata hanya dalam arti kata, akankan terjadi dikehidupan nyata ?? 

Ku menunggu senja tiba pada waktunya, begitu juga dengan gerimisnya. Hanya dengan itu engkau bisa muncul, wahai pelangi dengan biasnya.  Ku mencoba untuk meluapkan emosi ketika aku memandangnya, agar aku bisa meleburkan senyum untuknya. 

Ingin ku memasuki ruangan hampamu, pelangi. Melukiskan warna-warna yang berbeda dari warna sebelumnya. Memberikan kesejukan dikala engkau merasa gerah dan kesepian. Meskipun sesaat, ku bisa merasa lega, semua lepas. 




Melukiskan warna dengan segenap rasa, tampaknya begitu menarik. Meleburkan semua batas yang menjadi kokohnya benteng hati. Tidak demikian halnya yang terjadi. Secarik tulisan warna yang begitu beragam, membuatku tak perlu untuk melukiskannya di benteng hati itu. Pelangi, engkau telah mempunyai warna tersendiri, warna yang lain. Tat kala membuat warnaku mati. 

Lama sudah warnaku ini tak ku torehkan lagi. Erangan batin yang berkobar dalam rongga kenistaan hingga menjerit, menjalar asa kehampaan hati. 

Berjalan mengarungi waktu, ku temukan secarik kertas warna di dinding ini. Memberikan ruangan hampa yang membutuhkan warna. Tak khayal, warnaku pun seolah-olah menampakkan geloranya. Ku genggam kuas seraya ingin kutorehkan kembali di ruangan hampa itu. Tapi, mungkinkah ruangan hampa itu benar adanya untuk warna yang kumiliki?? Sehingga aku bisa menari-nari dengan kuasku?? Sehingga warnaku bisa meleburkan batas asa diantara ruangan hampa itu. 

Rindu yang menggebu, yang memenuhi hiasan dikala malam tiba. Begitu menyiksa, entah bagaimana caraku mendeskripsikannya. Semua tak terungkap begitu jelas. Sedikit canggung untuk menceritakannya kepada dinding ini…..esok kan ku buka mata, berharap menemukan pelangi, bukan bayang ilusi...





Copyright © 2009 Mihrab of Ziswa All rights reserved. Theme by Laptop Geek. | Bloggerized by FalconHive.